Universitas Medan Area (UMA) melalui Biro Publikasi, Jurnal Ilmiah dan Informasi Digital (BPJIID) bekerja sama dengan Pusat Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Publikasi Internasional (P3MPI) sukses menyelenggarakan Workshop Penulisan Proposal Penelitian Hibah DPPM Kemendiktisaintek Tahun Anggaran 2026. Kegiatan ini digelar dalam tiga sesi pada 5 dan 11 November 2025, menghadirkan para pakar dari Politeknik Negeri Lhokseumawe dan Universitas Sumatera Utara.

Workshop ini menjadi upaya strategis UMA dalam meningkatkan kapasitas peneliti, memperkuat kualitas proposal hibah, serta memastikan bahwa penelitian dosen dapat memberi kontribusi nyata bagi pembangunan nasional dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Rektor UMA: Penelitian UMA Harus Berdaya Saing dan Berdampak Nasional
Workshop dibuka pada sesi pertama melalui Zoom. Dalam sambutannya, Rektor UMA menegaskan pentingnya peningkatan kualitas riset di lingkungan kampus. Ia menekankan bahwa kompetisi hibah semakin ketat sehingga proposal yang diajukan harus kuat secara metodologis, memiliki novelty, dan relevan dengan agenda riset nasional.
“Riset UMA harus memberi solusi dan manfaat bagi pembangunan nasional. Workshop ini menjadi momentum penting bagi dosen untuk memperkuat kapasitas dalam menghasilkan proposal yang kompetitif dan berdampak,” ujar Rektor.
Sesi pertama menghadirkan Prof. Dr. Ir. Indra Mawardi, ST, MT, Guru Besar Politeknik Negeri Lhokseumawe. Beliau memaparkan dasar-dasar pemilihan skema penelitian, yang meliputi penelitian dasar, terapan, hingga program khusus seperti RIKUB dan Inovasi Seni Nusantara.

Prof. Indra menegaskan bahwa peneliti harus memperhatikan bidang riset prioritas nasional seperti ekonomi hijau, ekonomi biru, ekonomi digital, kemandirian kesehatan, dan pariwisata. Ia juga menyoroti pentingnya penyusunan roadmap lima tahun, indikator penilaian proposal, serta kelengkapan data yang menjadi penguat substansi.
“Proposal yang baik harus menunjukkan kebaruan, mengikuti template, dan didukung rekam jejak yang relevan. Ini adalah kunci untuk bersaing di tingkat nasional,” ujarnya.
BPJIID: Kualitas Penulisan Proposal Menentukan Peluang Pendanaan

Sesi kedua yang berlangsung luring di Conference Room Prof. Dr. H.A. Yakub Matondang menghadirkan Prof. Dr. Vivi Gusrini Rahmadani P, M.Sc., M.A., Psikolog sebagai narasumber.
Kepala BPJIID dalam sambutannya menyampaikan bahwa peningkatan kualitas proposal merupakan bagian dari komitmen institusi dalam memperkuat academic branding dan capaian kinerja riset UMA.
“Kualitas penulisan, ketepatan format, dan kekuatan argumen menentukan peluang lolos pendanaan. Melalui workshop ini, kami ingin memastikan dosen UMA memahami standar nasional dan mampu menyusun proposal dengan baik,” ujar Kepala BPJIID.
Prof. Vivi menguraikan secara rinci dua lapis seleksi proposal, yaitu seleksi administratif dan seleksi substantif. Ia menegaskan bahwa kesalahan sederhana seperti tidak mengikuti template, salah sitasi, atau jumlah kata berlebih dapat membuat proposal gugur sebelum dinilai substansinya.

Dalam materi substantif, Prof. Vivi menyoroti pentingnya urgensi penelitian, novelty, rekam jejak peneliti, kualitas kolaborasi, dan ketepatan metode. Ia juga memaparkan alasan umum reviewer menolak proposal, seperti tujuan yang terlalu umum, metode yang dangkal, hingga desain penelitian yang kurang inovatif.
Beliau memberi motivasi kepada peserta bahwa penolakan adalah bagian dari proses peningkatan kualitas.
“Yang diuji adalah argumen dan metode, bukan orangnya. Penolakan adalah jalan menuju penelitian yang lebih kuat,” ungkapnya.
P3MPI: Novelty, Roadmap, dan Ketepatan Anggaran Jadi Sorotan Utama
Sesi ketiga yang digelar pada 11 November menghadirkan Dr. Marlina, SH, M.Hum, dosen dan peneliti dari Universitas Sumatera Utara. Dalam sambutannya, Kepala P3MPI menekankan bahwa pemahaman terhadap struktur proposal, tingkat kesiapterapan teknologi (TKT), serta penyusunan anggaran yang akurat sangat menentukan peluang pendanaan.
“Banyak proposal gugur bukan karena idenya tidak bagus, tetapi karena tidak mengikuti template, metode tidak jelas, atau kebaruan tidak terlihat. Ini harus menjadi perhatian,” tegas Kepala P3MPI.
Dr. Marlina menyampaikan materi mendalam mengenai TKT bidang sosial humaniora dan pendidikan, mulai dari TKT 1 sampai TKT 6, lengkap dengan indikator di setiap tahap. Ia juga menjelaskan struktur rancangan proposal yang meliputi latar belakang, rumusan masalah, state of the art, roadmap penelitian lima tahun, metode, jadwal penelitian, dan penyusunan RAB sesuai Standar Biaya Keluaran (SBK).
Beliau juga membagikan berbagai kesalahan yang sering ditemukan dalam proposal, seperti penggunaan sitasi yang tidak sesuai sistem nomor, referensi yang tidak relevan, hingga metode yang tidak selaras dengan anggaran.
“Proposal yang baik adalah proposal yang jelas alurnya, menunjukkan kebaruan, dan selaras dengan kebutuhan bangsa,” ujar Dr. Marlina.
Antusiasme Tinggi dari Dosen UMA
Ketiga sesi workshop berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari para dosen UMA, baik melalui Zoom maupun dalam pertemuan tatap muka. Para peserta aktif berdiskusi dan berkonsultasi langsung dengan narasumber untuk memperbaiki proposal masing-masing.
Melalui kegiatan ini, BPJIID dan P3MPI berharap semakin banyak proposal dosen UMA yang berhasil memperoleh pendanaan hibah nasional, sekaligus memastikan bahwa riset yang dilakukan memberikan manfaat nyata bagi pembangunan nasional, kesejahteraan masyarakat, serta penguatan daya saing institusi.


